ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

DASAR-DASAR FILSAFAT

Filsafat adalah memikirkan sesuatu yang belum kita alami/ ketahui. Tugas dari ahli filsafat adalah untuk mengatasi spesialisasi dan memformulasikan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusiaan yang luas. Memikirkan filsafat mempunyai ciri khas yaitu menimbulkan gejolak.

Filsafat berasal dari bahasa yunani filosofi yang terdiri dari philo (suka/cinta) dan sophia (kebijaksanaan) yang artinya orang yang arif/ cinta akan kebijaksanaan.

Filsafat adalah sekumpulan sikap & kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (menerima hidup apa adanya)

Filsafat adalah suatu proses kritis/ pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat dijunjung tinggi (kritis akan sikap-sikap yang dianutnya). Evaluasi kritik sering berbeda :

  1. Karena mereka melihat benda dari segi yang berbeda
  2. Kerena mereka ini hidup dalam dunia yang berubah
  3. Karena mereka mengani bidang pengalaman kemanusiaan dimana bukti-bukti tidak cukup sempurna artinya hasil penelitian belum bisa menjawab sesuatu yang terjadi.

Filsafat adalah suatu usaha untuk mendapatkan gambaran kesempurnaan, filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains & pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam.

Filsafat adalah sebagai analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata & konsep. Jadi dalam hal ini filsafat sebagai satu bidang khusus yang mengacu kepada sains & membantu menjelaskan bahasa & bukannya suatu bidang yang luas yang memikirkan segala pengalaman dari kehidupan (memaknai berdasarkan apa yang kita temui pada subyek).

Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia & dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat. Filsafat mendorong penelitiannya sampai kepada soal-soal yang paling mendalam dari eksistensi manusia. Soal-soal pokok yang dipertayakan mislanya : ”Apakah kehidupan itu dan mengapa aku berada di sini? M       engapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini? Apakah alam bersahabat atau bermusuhan? Apakah yang terjadi itu terjadi secara kebetulan atau karena mekanisme atau karena ada rencana atau ada maksud atau pikiran dari dalam benak? Apakah kehidupan itu dikontrol seluruhnya atau sebgaian? Mengapa menusia berjuang dan berusaha untuk mendapatkan hak, keadilan, perbaikan dikemudian hari? apakah arti konsep hak dan kewajiban dan apakah ciri-ciri masyarakat yang baik ?”.

 KARAKTERISTIK BERPIKIR

1. Sifat menyeluruh

Sifat ini membuat seseorang merasa tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya, ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama, ingin yakin apakah ilmu itu akan membawa kebahagiaan kepada dirinya.

2. Sifat mendasar

Sifat ini membuat seseorang berpikir bahwa dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Dia akan bertanya, mengapa ilmu itu sebut benar? Apa kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan itu melingkar. Dan menyusur sebuah lingkaran, kita harus memulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus akhir.

3.Sifat spekulatif

Dalam sifat berpikir ini, yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita harus bisa membedakan spekulasi mana yang bisa diandalkan dan mana yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam dan segenap sarwa kehidupan?

Metode dasar dalam penelitian filsafat adalah dialektika. Dialektika adalah perkembangan pikiran dengan jalan mempertemukan ide-ide, berpikir dialektik berati berusaha untuk mengembangkan suatu cara, argumentasi dimana implikasi bermacam-macam posisi diketahui dan diharapkan satu dengan yang lainnya.

CABANG-CABANG TRADISIONAL DARI FILSAFAT

  1. Logika. Adalah pengkajian yang sistematis tentang peraturan-peraturan untuk menggunakan sebab secara benar. Peraturan-peraturan itu membedakan argumen yang lain dari argumen yang tidak baik.
  2. Metafisika. Membicarakan watak-watak sesungguhnya dari benda-benda/ realitas yang berada dibelakang pengalaman yang langsung.
  3. Epistemologi, pada umumnya adalah cabang filsafat yang mempelajari sumber-sumber, watak & kebenaran suatu pengetahuan.
  4. Etika. Membicarakan soal-soal mobilitas, dalam etika terdapat tiga lapangan yang luas yaitu etika deskriptif, normatif & metafisika.

 FAEDAH

  1. Untuk menjajaki kemungkinan adanya pemecahan-pemecahan terhadap problema-problema filsafat. Jika pemecahan itu sudah diidentifikasikan & diselidiki maka akan menjadi mudah untuk mendapatkan pemecahan persoalan untuk diteruskan mempertimbangkan jawaban-jawaban tersebut.
  2. Filsafat adalah suatu bagian dari keyakinan-keyakinan yang menjadi dasar perbuatan kita. Ide-ide filsafat membentuk pengalaman-pengalaman kita pada waktu sekarang.
  3. Filsafat berkemampuan untuk memperluas bidang-bidang kesadaran kita agar kita dapat menjadi hidup, lebih dapat membedakan, lebih kritis & lebih pandai.

ARISTOTELES

Lahir di Stageira Yunani Utara tahun 384 SM. Aristoteles yang dianggap sebagai orang yang menyusun filsafat secara sistematis. Menurutnya filsafat dikelompokkan ke dalam 8 bagian :

1. Logika 5. Metafisika
2. Filsafat alam 6. Etika
3. Psikologi 7. Politik & Ekonomi
4. Biologi 8. Retorika

Pendapatnya yang terkenal dari Aristoteles, berkaitan dengan Teori Tentang Gerak dan penyebab terjadinya sesuatu. Menurut Aristoteles, gerak berlangsung antara dua hal yang berlawanan antara panas dan dingin. Ada sesuatu yang dulunya dingin kemudian menjadi panas. Ada tiga faktor dalam setiap perubahan :

  1. Keadaan / ciri yang terdahulu yang dingin
  2. Keadaan/ ciri yang baru yang panas
  3. Adanya suatu sub stratum/ alas yang tetap yaitu air

Analisis tertutup gerak ini ada aktis dan potensi. Gerak menurut Aristoteles adalah peralihan dari potensi ke aktis, sesuatu yang potensial menjadi aktual. Dalam pandangannya tentang penyebab tiap-tiap kejadian, baik kejadian alam maupun kejadian yang disebabkan manusia, Aristoteles menyebutnya ada 4 penyebab :

  1. Penyebab efesien. Yaitu sumber kejadian/ faktor yang menjalankan kejadian.
  2. Penyebab final. Yaitu tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian
  3. Penyebab materi. Yaitu bahan dimana benda dibuat.
  4. Penyebab formal. Yaitu bentuk yang menyusun bahan.

 MAZHAB FILSAFAT

Mazhab adalah haluan/ aliran. Ada juga yang mengaitkan golongan pemikir yang sepaham dalam teori, ajaran, aliran tertentu dibidang ilmu, cabang kesenian, dsb, dan berusaha untuk memajukan hal itu. Mazhab-mazhab yang muncul dalam filsafat setelah abad pertengahan :

1. Rasionalisme

Mulai muncul pada abad 17. rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio/ akal. Pengalaman hanya dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan oleh akal dan sesungguhnya akal tidak memerlukan pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode adalah metode deduktif, yaitu suatu penawaran yang mengambil kesimpulan dari sutu kebenaran yang bersifat umum untuk ditetapkan kepada hal-hal yang khusus. Tokoh rasionalisme yang terkenal Rene Decartes (1596-1650). Pernyataannya yang terkenal ”Cogito ero sum!” Yang artinya aku berpikr maka aku ada.

 2. Empirisme

Muncul pada abad 17 dan merupakan kebalikan dari rasionalisme, berpendapat bahwa empiri/ pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. Metode yang digunakan adalah metode induktif, yaitu suatu penalaran yang mengambil kesimpulan dari suatu kebenaran yang bersifat khusus untuk diterapkan kepada hal-hal yang bersifat umum.
Orang yang pertama mengikuti mazhab ini adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Menurut Thomas Hobbes filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum. Sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek/ akibat-akibat/ penampakan-penampakan seperti yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebab atau akalnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati dengan maksud untuk mencari sebab-sebabnya, sedangkan alat yang dipakai adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dalam kata-kata yang menggambarkan fakta-fakta tersebut.

Sementara itu John Locke (1632-1704) mencoba menuliskan tradisi empiris untuk menjelaskan persoalan-persoalan tentang pengenalan/ pengetahuan. Menurutnya pengetahuan didapatkan dari pengalaman dan akal adalah pasif pada saat pengetahuan didapatkan. Rasio manusia mula-mula harus dianggap sebagai kertas putih yang kosong baru terisi melalui pengalaman. Ada dua pengalaman, yaitu pengalaman lahiriah dan batiniah. Kedua macam pengalaman ini saling berhubungan. Pengalaman lahiriah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniah. Dengan demikian, mengenal adalah identik dengan mengenal secara sadar.

 3. Idealisme

Kata idealisme digunakan secara filosofis digunakan oleh Leibniz pada awal abad 18. idealisme berpendapat bahwa seluruh realitas itu bersifat spiritual/ psikis dan materi yang bersifat fisik sebenarnya tidak ada. Ia berusaha menjembatani pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Leibniz mendasarkan filsafatnya berdasarkan atas substansi, yaitu sesuatu tampaknya sesuatu yang lain tidak akan ada. Menurutnya, ada banyak sekali substansi, begitu banyaknya sehingga tidak terhitung jumlahnya. Tiap substansi disebut monade yang bersifat tunggal dan tidak dapat dibagi-bagi. Monade tidak dapat dihasilkan secara alamiah dan tidak dapat ditafsirkan, adanya semata-mata karena penciptaan dan berlangsung selama Tuhan menghendakinya.

 4. Positivisme

Berkembang pada abad 19, positivisme berpendirian bahwa pemikiran filsafat berpangkal dari apa yang telah ditetapkan, yang faktual, yang positif sehingga sesuatu yang sifatnya metafisik ditolak. Pengetahuan tidak boleh melewati fakta-fakta, dengan demikian ilmu pengetahuan empiris dijadikan contoh dalam bidang pengetahuan. Namun ada perbedaan dengan empirisme, yaitu positivisme hanya membatasi pada pengalaman obyektif yang tampak, tetapi empirisme menerima pengalaman-pengalaman batiniah/ pengalaman-pengalaman subyektif.

Tokoh yang terkenal dalam positivisme adalah August Comte. Menurut Comte perkembangan pemikiran manusia, baik manusia sebagai pribadi maupun manusia secara keseluruhan meliputi tiga zaman :

1. Zaman teologis

Pada zaman ini manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa Adikodrati yang mengatur fungsi-fungsi dan gerak-gerak tersebut.

2. Zaman metafisik

Kuasa-kuasa Adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak.

3. Zaman positif

Pada zaman ini manusia tidak mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Dengan menggunakan rasionya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan/ urutan yang terdapat antara fakta-fakta. Pada zaman ini mulai dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.

Pragmatis. Muncul pada abad 19 dan dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1939-1914). Pragmatisme berpendapat bahwa kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kriteria pragmatis juga digunakan dalam menentukan kebenaran ilmiah dilihat dari perspektif waktu.

Fenomonolgi. Dicetuskan oleh Edmund Husserl  seorang ahli filasafat dari Jerman pada abad ke-20. Berpendapat bahwa para ahli filasafat harus berusaha menjelaskan dan menganalisa fenomena yang terjadi, disamping mengatur serta mempertimbangkannya apakah fenomena itu obyektif atau subyektif. Teori ini menekankan pada observasi yang sangat teliti dan interpretasi dari persepsi yang nyata terhadap suatu hal. Pertama, kita harus mengikuti fenomena itu secara sadar, melakukan pengamatan berdasarkan persepsi kita dengan sangat hati-hati dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kedua, kita harus merefleksikannya ke dalam observasi dan mengartikannya tanpa berprasangka sebelumnya.

Eksistensi. Muncul pada abad ke-20 dicetuskan oleh Simone de Beauvoir (1908-1986) dan Jean-Paul Sartre, (1905-1980). Berpendapat bahwa adalah merupakan kekejaman untuk meletakkan hakikat manusia yang bersifat khas dan individual dibawah tirani pengetahuan yang bersifat umum. Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari, tidaklah perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang berfungsi memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dalam kehidupan ini.

KOMUNIKASI

Komunikasi dapat disebut sebagai ilmu karena telah memenuhi syarat  berikut :

  1. Mempunyai obyek tertentu

Ilmu merupakan suatu bentuk pengetahuan yang mempelajari suatu obyek. Obyek dalam ilmu harus dibedakan antara obyek material, yaitu apa yang dipandang dan obyek formal, yaitu sudut pandang dalam arti dari sudut mana obyek itu dipandang. Dan obyek formal adalah hal yang menentukan antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya. Dua ilmu atau lebih dapat sama obyek materialnya, tetapi ilmu tersebut berbeda satu sama lain berkat obyek formalnya.

Obyek formal ilmu komunikasi adalah perilaku manusia, termasuk di dalamnya perilaku individu, kelompok dan masyarakat. Obyek formalnya situasi yang mengarah pada perubahan sosial, termasuk perubahan perilaku, perasaan, sikap dan perilaku individu, kelompok, masyarakat, dsb.

1. Bersifat sistematis

Sistematis berati menurut suatu sistem tertentu. Sistem diartikan sebagai kumpulan hal-hal yang disatukan ke dalam suatu keseluruhan yang konsisten karena saling terkait. Dalam bentuknya yang formal, ilmu pengetahuan dinyatakan dalam suatu definisi.

 2. Berlaku umum

Komunikasi diberbagai negara, termasuk di Indonesia sudah dipelajari, diteliti, dipraktekkan dan dikembangkan, karena pada dasarnya komunikasi memang sangat diperlukan bagi kepentingan manusia dan masyarakat

 3. Mempunyai metode tertentu

Sebagaimana ilmu sosial lainnya, kosmi menggunakan metode penelitian untuk mengembangkan ilmunya, dan ada yang spesifik untuk  mengembangkan ilmu komunikasi.

            Ilmu komunikasi dalam kelompok ilmu termasuk ilmu sosial seperti ekonomi, psikologi dengan kategori ilmu terapan. Lingkungan komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi mencakup segala aspek kehidupan manusia dengan segala kompleksitasnya, maka bahasan komunikasi semakin luas dan semakin banyak dimensinya. Untuk itu kalau kita lihat komunikasi berdasarkan konteksnya, komunikasi terdiri dari :

1. Bidang komunikasi

Bidang yang dimaksud adalah bidang kehidupan manusia antara bidang kehidupan satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas. Kekhasan inilah yang membedakan dalam proses komunikasi. Berdasarkan bidangnya komunikasi dibagi :

  1. Komunikasi sosial
  2. Komunikasi organisasi sosial
  3. Komunikasi bisnis
  4. Komunikasi politil
  5. Komunikasi internasional
  6. Komunikasi antar budaya
  7. Komunikasi pembangunan
  8. Komunikasi tradisional

 2. Sifat komunikasi

Ditinjau dari sifatnya komunikasi diklarifikasikan sebagai berikut :

                   a.      Komunikasi verbal (lisan dan tulisan)

                   b.      Komunikasi nirvebal (komunikasi kiyal/ gestural, gambar, isyarat)

                   c.      Komunikasi tatap muka

                   d.      Komunikasi bermedia

 3. Tatanan komunikasi

Tatanan komunikasi dimaksudkan adalah proses komunikasi ditinjau dari jumlah komunikan. Berdasarkan situasi komunikasi seperti itu maka komunikasi diklarifikasikan menjadi bentuk-bentuk sebagai berikut :

                   a.      Komunikasi pribadi (intrapribadi dan antarpribadi)

                   b.      Komunikasi kelompok (Komunikasi kelompok kecil, seperti : ceramah, simposium, diskusi panel, seminar, dsb; Komunikasi kelompok besar).

                   c.      Komunikasi massa (Komunikasi massa cetak, seperti :surat kabar, buku, majalah,dll; Komunikasi media massa elektronik)

                   d.      Komunikasi medio (surat, telepon, pamflet, dsb)

 4. Tujuan komunikasi

                   a.      Merubah sikap

                   b.      Mengubah opini

                   c.      Mengubah perilaku

                   d.      Mengubah masyarakat

 5. Fungsi komunikasi

                   a.      Menginformasikan

                   b.      Mendidik

                   c.      Menghibur

                   d.      Mempengaruhi

 6. Teknik komunikasi

Yang dimaksud teknih adalah keterampilan berkomunikasi yang dilakukan komunikator, teknik ini diklarifikasikan menjadi :

                   a.      Komunikasi informatif

                   b.      Komunikasi persuasif

                   c.      Komunikasi koersif

                   d.      Komunikasi instruktif

                   e.      Hubungan manusiawi

 7. Metode komunikasi

Diartikan sebagai kegiatan komunikasi yang terorganisasi, antara lain :

                   a.      Jurnalistik (Cetak, TV, Radio)

                   b.      Humas

                   c.      Periklanan

                   d.      Propaganda

                   e.      Perang urat syaraf

                    f.      Perpustakaan, dsb.

 PENGERTIAN FILSAFAT KOMUNIKASI

            Didefinisikan sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (persthahen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kristis dan holistis. Teori dan proses komunikasi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, fungsinya, tehniknya dan metodenya.

 KAJIAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS DAN AKSIOLOGI KOMUNIKASI

1. Kajian Ontologis

Adalah pengkajian ilmu mengenai hakikat realitas dari obyek yang ditelaah dalam membuahkan ilmu pengetahuan (apa).

2. Kajian Epistemologis

Adalah membahas cara untuk mendapatkan pengetahuan yang dalam kegiatan keilmuan disebut juga metode ilmiah (bagaimana).

3. Kajian Aksiologi

Adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan yang diperoleh (untuk apa).

 

ETIKA FILSAFAT DAN KOMUNIKASI

FILSAFAT ILMU

 

Kaitan Filsafat Ilmu, metode Penelitian Dalam Membangun Teori Komunikasi

 

Filsafat Ilmu

 

 

 

   

 Ontologi           Epistemologi        Aksiologi

                       

                      Metode Penelitian

 

 

                      Teori Komunikasi

 

Metode penelitian merupakan operasionalisasi dari epistemologi ke arah pelaksanaan penelitian. Metode penelitian juga merupakan pemahaman tentang cara/ teori menemukan/ menyusun pengetahuan dari ide, materi atau keduanya menujuk pada penggunaan rasio, intusi, empiris, fenomena/ metode ilmiah. Metode ilmiah mengarah pada pembangunan ilmu.

 

METODE ILMIAH

Penalaran Deduktif

Penalaran Induktif

 

 

Analisis kuantitatif

Analisis Kualitatif

 

 

Tujuan

Menemukan penjelasan sebab0akibat mengapa suatu fenomena terjadi/ fenomena yang akan terjadi

Tujuan

Menarik kesimpulan umum untuk deskripsi general dari suatu tenomena

 

 

Hukum deduktif

Segala yang dipandang benar pada suatu peristiwa dalam suatu golongan, kategori, klasifikasi berlaku pula sebagai hal yang benar pula pada peristiwa khusus.

Kesimpulan umum

Induksi berangkat dari khusus-umum

 

 

Prisnsip Kerja

Silogisme logika suatu argumentasi yang terdiri dari premis mayor, minor dan konklusi

Hukum Induktif

Jika sejumlah fenomena atau unit fenomena yang diamati pada variasi kondisi luas menunjukkan adanya unsur, ciri,sifat, maka semua fenimena termasuk yang tidak diamati mempunyai unsur, ciri dan sifat

 

 

 

Penelitian Naturalistik

Sebuah proses yang ditunjukkan untuk mengungkap informasi yang tersembunyi dan untuk memperjelasnya.

 

ALUR METODE ILMIAH

 

 

 

 

 

Metode Ilmiah

(Mengarah pada pembangunan ilmu)

Metode Penelitian

(Mengarah pada proses berpikir)

Teknik Penelitian

(Cara/ alat, termasuk kemahiran membuat dan menggunakannya yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian)

 

 

6 Langkah Metode ilmiah

 

  1. Menetapkan/ merumuskan
  2. Menyusun kerangka pikiran/ pendekatan masalah
  3. merumuskan hipotesis

 

Fase persiapan

  1. menguji hipotesis

-          Membuat rancangan

-          Mengumpulkan data/ informasi

-          Analisis interpretasi

 

 

Fase Pengumpulan data/ informasi

  1. Pembahasan
  2. Penarikan kesimpulam

Fase penyusunan penulisan laporan

 

TEKNIK PENELITIAN

 

 

 

 

 

Tujuan Mencapai Validitas dan Reabilitas

 

Faktor Yang Dapat Menggagalkan :

  1. Subyek peneliti
  2. obyek yang diteliti
  3. alat yang digunakan
  4. situasi

Cara Mencapai Tujuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 1.      PERPSEKTIF POLITIK

Suatu sistem politik biasanya mempunyai sekumpulan nilai serta prosedur terselubung dan terang-terangan dalam ideologinya, yang dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi kesehatan dan pertumbuhan pemerintah itu. Asumsinya bahwa komunikasi harus membnetuk perwujudan nilai ini dan bahwa teknik dan taktik komunikasi yang menghambat, menumbangkan atau mengelak dari nilai-nilai politik fundamental ini harus dikecam sebagai tidak etis.

Empat moralitas : Kebiasaan meneiliti, Kita harus menumbuhkan kebiasaan bersikap adil, Terbiasa mengutamakan motivasi umum daripada motivasi pribadi, Kebiasaan menghormati perbedaan pendapat.

  1. 2.      PERSPEKTIF SIFAT MANUSIA

Berpusat pada esensi sifat manusia. Karakteristik yang unik dari sifat manusia yang membedakan manusia dengan hewan yang membuat manusia secara esensial adalah manusia. Asumsinya bahwa sifat-sifat manusia haruslah dikembangkan sehingga meningkatkan pemenuhan kemampuan individu

  1. 3.      PERSPEKTIF DIALOGIS

Perspektif dialogis untuk mengevaluasi etika komunikasi berfokus pada sikap terhadap satu sama lain yang dipegang oleh partisipan dalam transaksi komunikasi. Asumsinya bahwa sebagian sikap (karakteristik dialogis) sepenuhnya manusiawi, manusiawi dan fasilitatif bagi pemenuhan diri, dari sikap-sikap lain (karekteristik monolog). Sikap dialogis dipegang unyuk memelihara dan mengaktualisasikan setiap kapasitas dan potensi individu, apapun kapasitas dan potensi tersebut.

Karakteristik dialogis : Keontentikan, Keikutsertaan, konfirmasi, Kehadiran, Semangat persamaan, Suasan yang mendukung.

  1. 4.      PERSPEKTIF SITUASIONAL

Perspektif situasional dengan tetap dan terutama terfokus pada unsur-unsur situasi komunikasi yang dihadapi. Penilaian etika komunikasi dari perspektif ini adalah : Peranan dan fungsi komunikator terhadap khalayak, Standar khalayak mengerti mengenai kologisan dan kelayakan, Derajat kesadaran khalayak ttg cara-cara komunikator, Tingkat urgensi untuk melaksanakan usulan komunikator, Tujuan dan nilai khalayak, Star\ndar khalayak u/ komunikasi etis.

  1. 5.      PERSPEKTIF RELIGIUS

Pernyataan yang mendasari perspektif religius tentang persuasi dan komunikasi dikembangkan oleh Charles Veenstra dan Daryl Vander Kooi. Karena manusia diciptakan dalam imaji Tuhan, meraka dikaruniai kapasitas khas manusia untuk menilai etika, meraka menghormati Tuhan lewat ibadah dan kualitas hubungannya dengan orang lain, dan mereka mempunyai kemampuan berpikir dan berkomunikasi kreatif yang tidak dipunyai makhluk lain.

  1. 6.      PERSPEKTIF UTILITARIAN

Menekankan pada kriteria kegunaan, kesenangan dan kegembiraan dalam menilai etika komunikasi. Rumusannya adalah bahwa semua orang harus bebrbuat banyak kebaikan atau orang tersebut harus menguntungkan jumlah terbanyak orang.

  1. 7.      PERSPEKTIF LEGAL

Hanya mengukur komunikasi berdasarkan hukum dan aturan yang berlaku u/ menetukan keetisan suatu cara.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: